preloader
thumb-1
thumb

By Admin Perisai

13 Agustus 2026

0 Komentar

10

Mak Jah, Penjaga Terakhir Kampung yang Ditelan Laut

Ketika ratusan tetangganya pergi meninggalkan kampung yang tenggelam, Pasijah memilih tinggal, menanam mangrove, dan merawat harapan agar tanah kelahirannya tak benar-benar hilang.

Di tengah rimbunnya hutan mangrove di pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebuah rumah panggung berdiri sendirian, seolah menyembul dari tengah laut. Di rumah itulah pasangan suami-istri Rukani dan Pasijah, yang lebih akrab disapa Mak Jah, menjalani hari-hari mereka. Rumah itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Dusun Rejosari, kampung yang dulu dikenal warga sekitar sebagai Kampung Senik. Tidak ada lagi tetangga, tidak ada jalan aspal, hanya air payau yang mengepung rumah mereka dari segala penjuru setiap kali air pasang datang.

Sebelum tahun 2006, Kampung Senik adalah permukiman yang hidup, dihuni sekitar 206 keluarga dengan total sekitar 806 jiwa. Abrasi mulai menggerogoti pesisir Bedono sejak pertengahan dekade 1990-an, dan pada 1999 sebanyak 65 kepala keluarga dari Dusun Tambaksari lebih dulu direlokasi ke Desa Purwosari. Gelombang kepindahan berikutnya terjadi pada 2006, ketika 201 keluarga dari Rejosari Senik dipindahkan ke Desa Sidogemah dan Gemulak dalam proses yang oleh warga setempat disebut bedol desa. Satu demi satu rumah ditinggalkan, hingga akhirnya hanya rumah panggung Mak Jah dan Rukani yang bertahan di tengah kepungan laut.

Berbeda dari ratusan keluarga lain yang memilih pindah, Mak Jah bertahan. Sejak tahun 2000 ia mulai menanam bibit mangrove secara mandiri sebagai benteng alami dari terjangan ombak, kebiasaan yang terus ia jalani hingga kini. Kepala Desa Bedono, Agus Salim, pernah menyebut faktor ekonomi sebagai alasan utama keluarga ini tetap tinggal di kampung yang nyaris tenggelam itu, selain ikatan batin pada tanah kelahiran. Mak Jah tinggal bersama Rukani dan dua dari tiga anak mereka, sementara anak sulungnya sudah berkeluarga dan menetap di Kecamatan Karangtengah.

Data Ilmiah di Balik Kampung yang Tenggelam

Kisah Mak Jah bukan sekadar cerita personal, melainkan potret dari krisis lingkungan yang jauh lebih luas. Penelitian yang terbit di jurnal Scientific Data terbitan Nature oleh Susilo dan tim (2023) memakai pemantauan GNSS di dua puluh titik sepanjang pesisir utara Jawa, dan mendapati Demak, bersama Jakarta, Pekalongan, dan Semarang, mengalami penurunan tanah dengan laju rata-rata sekitar 6 sentimeter per tahun, kurang lebih sembilan kali lebih cepat dibanding laju kenaikan muka air laut global. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak turut mencatat luas wilayah yang terabrasi di Desa Bedono mencapai 684 hektare, jauh lebih parah dibanding desa tetangga seperti Sriwulan, Timbulsloko, maupun Surodadi. Tim peneliti dari Universitas Diponegoro bahkan memperkirakan sebagian pesisir utara Jawa berpotensi tenggelam total dalam beberapa dekade mendatang apabila tren penurunan tanah ini tidak dikendalikan.

Di tengah ancaman itu, upaya rehabilitasi mangrove seperti yang dilakukan Mak Jah mendapat sorotan akademis. Studi yang terbit di jurnal BMC Ecology and Evolution (2025) menemukan bahwa ekosistem mangrove di Bedono mengalami degradasi serius akibat abrasi dan salinitas tanah yang sangat tinggi, dengan tingkat keberhasilan penanaman yang masih rendah karena teknik tanam yang belum adaptif serta lemahnya koordinasi antarpemangku kepentingan. Riset lain oleh Fikriyani dan Mussadun (2014) di Jurnal Ruang mengevaluasi jalannya program rehabilitasi mangrove di pesisir Bedono, sementara studi Pramudito dan tim di Journal of Marine Research Universitas Diponegoro mencatat perubahan luas vegetasi mangrove di desa ini sepanjang 2009 hingga 2019. Ketekunan Mak Jah menanam dan merawat mangrove selama lebih dari dua dekade akhirnya membuahkan sejumlah penghargaan, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadiahinya sebuah rumah apung sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya menjaga garis pantai.

Kini, di usia lebih dari lima dekade, Mak Jah tetap memilih tinggal di rumah panggung itu, ditemani suara ombak yang dulu adalah halaman rumah para tetangganya. Ia berharap pembangunan Tol Semarang-Demak dan penataan kawasan pesisir dapat menghidupkan kembali kampung yang pernah ramai itu. Bagi banyak pihak, kisah Mak Jah menjadi simbol sekaligus peringatan, bahwa di balik data ilmiah tentang penurunan tanah dan kenaikan air laut, ada manusia yang harus memilih antara bertahan atau pergi dari tanah yang mereka cintai, sembari terus menanam harapan di antara akar-akar mangrove yang mereka rawat sendiri.

Sumber:

Bagikan:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.