Ketika berbicara tentang perubahan iklim, perhatian sering kali tertuju pada konferensi internasional, teknologi ramah lingkungan, atau kebijakan pemerintah. Namun, di Kampung Teluk Sulaiman, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, aksi nyata menjaga bumi justru dilakukan setiap hari oleh para perempuan pesisir.
Mereka mungkin tidak tampil di forum internasional, tetapi tangan-tangan mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan mangrove yang menjadi benteng alami kawasan pesisir.

Lebih dari Sekadar Menanam Mangrove
Perempuan di Teluk Sulaiman tidak hanya membantu kegiatan konservasi. Mereka menjadi penggerak utama dalam pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga mengedukasi wisatawan mengenai pentingnya ekosistem mangrove.
Aktivitas tersebut dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Berkat pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, mereka memahami cara memilih bibit yang baik, merawat mangrove hingga tumbuh, serta menjaga kawasan agar tetap bersih dan menarik sebagai destinasi ekowisata.
Peran ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekowisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam, tetapi juga pada komitmen masyarakat lokal, terutama perempuan.
Mangrove yang Menjaga Kehidupan
Mangrove memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat pesisir. Akar-akar mangrove mampu menahan abrasi, melindungi pantai dari gelombang, menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan dan kepiting, sekaligus menyerap karbon dalam jumlah besar yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Ketika mangrove tetap sehat, hasil tangkapan nelayan juga lebih terjaga. Artinya, upaya konservasi yang dilakukan perempuan tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga mendukung keberlangsungan ekonomi keluarga pesisir.
Ekowisata yang Memberdayakan
Selain menjaga lingkungan, perempuan juga berperan dalam mengembangkan ekowisata berbasis mangrove. Mereka menjadi pemandu wisata, mendampingi pengunjung menanam mangrove, menjelaskan fungsi ekologis hutan mangrove, hingga menyediakan makanan dan layanan bagi wisatawan. Dengan demikian, konservasi dan pariwisata berjalan beriringan, memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.
Model seperti ini dikenal sebagai ekowisata berkelanjutan, yaitu wisata yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan memberdayakan masyarakat setempat.
Kontribusi Lokal untuk Agenda Global
Apa yang dilakukan perempuan Teluk Sulaiman ternyata memiliki dampak yang jauh lebih luas. Upaya mereka mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan mengenai aksi iklim (SDG 13) dan perlindungan ekosistem laut (SDG 14). Konservasi mangrove juga berkontribusi terhadap implementasi Perjanjian Paris melalui perlindungan ekosistem karbon biru (blue carbon), yang menjadi salah satu strategi penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Dengan kata lain, aksi sederhana seperti merawat bibit mangrove dan mengajak wisatawan menanam pohon merupakan bagian dari upaya dunia menghadapi krisis iklim.
Masih Menghadapi Banyak Tantangan
Meski kontribusinya sangat besar, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan. Peran mereka belum sepenuhnya diakui dalam pengambilan keputusan. Sebagian besar masih terlibat sebagai pelaksana lapangan, sementara posisi strategis dalam organisasi lebih banyak diisi laki-laki.
Selain itu, akses terhadap pelatihan teknis, pendanaan, dan pengembangan kapasitas masih terbatas. Pendapatan dari ekowisata juga belum stabil karena sangat bergantung pada jumlah kunjungan wisatawan. Tidak sedikit kegiatan konservasi yang masih bergantung pada dukungan lembaga swadaya masyarakat atau organisasi luar.
Saatnya Memberi Ruang Lebih Besar

Pengalaman Teluk Sulaiman menunjukkan bahwa perempuan adalah penggerak utama yang menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas perempuan, perluasan akses terhadap pelatihan, peningkatan peran dalam pengambilan keputusan, serta dukungan pembiayaan menjadi langkah penting agar kontribusi mereka semakin optimal. Jadi menjaga mangrove selain untuk melestarikan hutan pesisir, juga tentang menjaga harapan masa depan yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Dan di Teluk Sulaiman, harapan itu tumbuh dari dedikasi para perempuan yang setiap hari merawat alam, menghidupi keluarga, dan tanpa disadari turut menjaga masa depan bumi.
Sumber
INOVASI PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN | VOLUME 13 NO. 3 1
PERAN PEREMPUAN DALAM EKOWISATA MANGROVE: KONTRIBUSI LOKAL TERHADAP AGENDA IKLIM GLOBAL DI TELUK SULAIMAN
WOMEN'S ROLE IN MANGROVE ECOTOURISM: LOCAL CONTRIBUTIONS TO GLOBAL CLIMATE AGENDA IN TELUK SULAIMAN
Alda Nur Maulidiyah1, Khoirul Amin2, Muhammad Dziqie Aulia Al-Farauqi3
Universitas Muhammadiyah Kalimantan
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.