Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah – Semangat perempuan pesisir untuk menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga terlihat nyata dalam kegiatan Empowering Women, Restoring Mangroves yang dilaksanakan pada 8–11 Mei 2026 di Desa Cempa, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Program ini merupakan bagian dari Program PERISAI Mangrove yang didukung oleh Yayasan Care Peduli (YCP) dan dilaksanakan bersama Karsa Institute.
Kegiatan pelatihan ini melibatkan dua Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), yaitu KUEP Karang Laut dan KUEP Vatu Mule’e, yang beranggotakan perempuan-perempuan pesisir dengan peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam di desa mereka. Program ini hadir dengan keyakinan bahwa perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak perubahan lingkungan dan ekonomi di tingkat komunitas.
Dari Penjaga Rumah Tangga Menjadi Penjaga Ekosistem
Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar pepohonan di tepi pantai. Hutan mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi, intrusi air laut, dan dampak perubahan iklim. Kerusakan mangrove secara langsung memengaruhi kehidupan keluarga nelayan dan masyarakat sekitar.
Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai ekosistem mangrove, teknik restorasi, hingga kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain sesi kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan mulai dari pembibitan, identifikasi lokasi tanam, persiapan area penanaman, hingga simulasi pemeliharaan mangrove.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya belajar dari fasilitator dan narasumber, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan pesisir. Pendekatan ini memperkuat solidaritas dan rasa percaya diri anggota kelompok untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan desa.
Belajar dari Lapangan, Bertindak untuk Masa Depan
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah praktik lapangan di kawasan mangrove Desa Cempa. Di bawah rindangnya hutan mangrove, para peserta mempelajari teknik mengenali jenis mangrove yang sesuai dengan karakteristik lahan setempat, cara pembibitan yang baik, hingga langkah-langkah rehabilitasi kawasan pesisir.
Melalui kegiatan ini, perempuan Desa Cempa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis konservasi, tetapi juga memahami potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Membuka Peluang Ekonomi Berbasis Mangrove
Selain aspek konservasi, pelatihan juga memperkenalkan konsep “Mangrove to Market”, yaitu pendekatan yang menghubungkan upaya pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Peserta diajak melihat berbagai peluang usaha berbasis mangrove yang dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.
Hasil pelatihan menunjukkan meningkatnya pemahaman peserta mengenai potensi produk ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal, termasuk peluang pengembangan wisata alam mangrove yang dapat menjadi daya tarik baru bagi Desa Cempa.
Dengan adanya alternatif usaha di luar sektor perikanan tangkap, masyarakat memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, terutama saat menghadapi musim cuaca buruk yang membatasi aktivitas melaut.
Perempuan sebagai Agen Perubahan
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menjadi ruang lahirnya pemimpin-pemimpin lingkungan baru di tingkat komunitas. Para peserta didorong untuk menjadi penggerak kampanye pelestarian mangrove dan mengajak masyarakat luas menjaga kawasan pesisir.
Transformasi ini tercermin dari meningkatnya kepercayaan diri anggota KUEP untuk terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan lingkungan desa. Mereka diharapkan menjadi bagian dari generasi Women Mangrove Warriors yang aktif menyuarakan pentingnya perlindungan ekosistem pesisir bagi masa depan masyarakat.

Menjaga Komitmen Bersama
Pelatihan yang berlangsung selama empat hari ini menjadi langkah awal dari perjalanan panjang restorasi mangrove di Desa Cempa. Setelah kegiatan berakhir, kelompok perempuan akan melanjutkan pemantauan persemaian, perawatan bibit, serta persiapan penanaman mangrove yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026.
Kolaborasi antara komunitas perempuan, pemerintah desa, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan akan lebih kuat ketika dilakukan secara bersama-sama.
Di Desa Cempa, perempuan pesisir telah membuktikan bahwa menjaga mangrove bukan hanya tentang menanam pohon. Ini adalah tentang menanam harapan, memperkuat ketahanan keluarga, dan membangun masa depan yang lebih hijau untuk generasi mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.