Laporan Pelaksanaan Triwulan IV, Oktober – Desember 2024
Ekosistem mangrove sejatinya menyimpan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat pesisir. Sebagian besar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia berada dalam kondisi terdegradasi akibat pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan maupun pencemaran dari berbagai aktivitas di wilayah darat dan laut. Menyadari kondisi tersebut, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah bersama masyarakat telah meningkatkan upaya rehabilitasi dan restorasi di kawasan pesisir. Salah satu pendekatan strategis yang diambil adalah mendorong pemanfaatan hasil non-kayu dari ekosistem mangrove sebagai alternatif mata pencaharian baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut, sekaligus sebagai instrumen untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian mangrove.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P4K) hadir sebagai motor penggerak dalam upaya tersebut. Komitmen Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut ini diwujudkan melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana pengolahan produk turunan mangrove kepada kelompok-kelompok masyarakat yang berpotensi. Berbagai jenis mangrove telah diidentifikasi dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, antara lain Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Brugueira gymnorhyza, Acanthus ilicifolius, Nypa fruticans, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora stylosa. Dari bahan baku alami tersebut, beragam produk olahan dapat dihasilkan, mulai dari dodol, sirup, keripik, stik mangrove, hingga jus buah mangrove.

Pada Triwulan IV tahun 2024, bantuan sarana dan prasarana ini diberikan kepada Kelompok Somano yang berlokasi di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Kelompok ini menerima bantuan berupa sarana produksi khusus untuk tiga jenis produk unggulan, yaitu keripik, jenang, dan sirup berbahan baku mangrove. Penyerahan bantuan ini bukan sekadar transfer alat semata, melainkan merupakan bagian dari program terpadu yang mencakup sosialisasi, pelatihan teknis pengolahan, hingga pembekalan terkait sertifikasi produk dan strategi pemasaran, sehingga kelompok benar-benar siap untuk terjun ke pasar secara mandiri.
Pelatihan Terpadu dan Penguatan Kapasitas Kelompok
Kegiatan tidak berhenti pada serah terima bantuan fisik. Sebagai bagian dari program penguatan kapasitas, Kelompok Somano bersama perwakilan masyarakat dan unsur dinas terkait mendapatkan materi sekaligus praktik langsung pengolahan produk turunan mangrove. Materi yang diberikan meliputi pembuatan makanan seperti jenang atau dodol mangrove dan stik mangrove, serta minuman berupa sirup mangrove. Pelatihan praktis ini dirancang untuk memastikan anggota kelompok tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memproduksi dengan standar kualitas yang memadai untuk dipasarkan secara luas.
Aspek legalitas dan daya saing produk turut menjadi fokus penting dalam program ini. Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kota Surabaya memberikan materi khusus mengenai sertifikasi halal dan strategi pemasaran produk olahan mangrove, sementara Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyampaikan materi terkait Sertifikasi Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT). Kedua pembekalan ini diberikan sebagai persiapan bagi kelompok untuk memenuhi persyaratan merek dagang dan layak edar secara luas sebagai produk olahan UMKM. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya pun menyatakan komitmen untuk memberikan pembinaan dan pendampingan berkelanjutan kepada Kelompok Somano pascapenyerahan bantuan.

Sebagai tindak lanjut jangka pendek, Kelompok Somano diharapkan segera memulai produksi dan melakukan pemeriksaan kembali masa berlaku seluruh sertifikasi produk, termasuk sertifikat halal, merek dagang, dan PIRT, sebagai syarat mutlak agar produk layak beredar di pasaran. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya juga berencana memfasilitasi pemasaran produk olahan keripik, jenang, dan sirup Kelompok Somano di kawasan wisata Kebun Raya Mangrove Wonorejo, sebuah lokasi strategis yang dapat menjangkau wisatawan dan pengunjung secara langsung. Pemantauan dan pendampingan pemasaran secara lebih luas juga akan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas UMKM Kota Surabaya, memastikan keberhasilan program ini memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Surabaya.
Laporan ini disusun oleh Suryo Prasojo (NIP. 197802072005021003), Jakarta, 11 November 2024.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.