Di pesisir Desa Cempa, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, sebuah gerakan perubahan sedang tumbuh subur. Bukan sekadar menanam pohon, gerakan ini adalah tentang kedaulatan perempuan dalam menjaga ekosistem yang menjadi benteng pertahanan desa mereka. Melalui program PERISAI Mangrove, para perempuan Desa Cempa kini berdiri di garda terdepan sebagai "Pejuang Pemulihan Lanskap Mangrove".
Saling Belajar dan berbagi semangat antar Perempuan Lokal
Pada 8 - 11 Mei 2026, suasana Desa Cempa tampak berbeda. Sebanyak 60 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) berkumpul untuk mengikuti pelatihan intensif. Menariknya, mereka tidak belajar dari instruktur yang hanya mengandalkan teori di dalam kelas atau laboratorium institusi penelitian dan perguruan tnggi. Pelatihan ini menghadirkan sosok inspiratif dari komunitas perempuan Likupang (KUEP Lolaro) yang telah lebih dulu sukses merestorasi mangrove di wilayahnya dan menjadi pemimpin perubahan di wilayahnya. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari kepala desa yang setiap hari rajin mendampingi seluruh kegiatan ibu-ibu mulai dari pagi hingga sore hari, bahkan di hari terakhir, ibu-ibu atas inisiatif sendiri mengadakan malam seni, untuk mementaskan berbagai kreasi mereka dalam lagu, puisi dan tarian lokal.
Metode peer learning atau belajar antar sesama perempuan ini terbukti sangat efektif. Dibandingkan ceramah formal, para peserta lebih banyak terlibat dalam sesi story-telling (berbagi pengalaman) dan diskusi interaktif. Mereka saling bercerita tentang cara mengelola waktu antara tanggung jawab domestik rumah tangga dengan kegiatan restorasi di lapangan—sebuah tantangan nyata yang mereka hadapi sehari-hari.
Lebih dari Sekadar Menanam
Pelatihan yang diinisiasi oleh Yayasan CARE Peduli bersama KARSA Institute dan dudukung oleh Ford Foundation bekerjasama dengan Kemendagri, KKP dan KemenPPPA RI, ini menitikberatkan pada kapasitas kepemimpinan perempuan yang disertai dengan penguasaan teknis yang mendalam untuk dapat melaksanakan praktek pembibitan, penanaman, pemerliharaan dan geotagging. Untuk itu para ibu-ibu ini riang gembira dan sangat bersemangat untuk terjun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan:
Identifikasi berbagai jenis mangrove yang tumbuh di desa Cempa dan sekitranya
Identifikasi lokasi lahan kritis di wilayahnya dan menjadi tanam yang tepat.
Identifikasi propagul (bakal tumbuhan baru dari pohon bakau) yang siap dibibitkan
Teknik pengambilan propagul yang berkualitas.
Proses pembibitan dan pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi lokal Desa Cempa.
"Praktik langsung di lapangan jauh lebih membantu pemahaman kami dibandingkan hanya sekadar materi teori," ungkap salah satu peserta dalam sesi refleksi. Hasilnya mulai terlihat; kini para perempuan Desa Cempa mulai menunjukkan inisiatif dalam mengelola pembibitan dan menentukan lokasi tanam secara mandiri.
Di sela-sela pelatihan mereka memasak, makan Bersama, berbagi cerita, bersenda gurau dan melakukan berbagai permainan, gerak dan lagi serta yel-yel yang membakar semangat mereka.

Ibu-ibu dari komunitas sedang melakukan koordinasi untuk memulai kegiatan penanaman
Kepemimpinan Perempuan: Kunci Keberlanjutan
Esensi dari program PERISAI Mangrove adalah membangun kepemimpinan perempuan. Program ini percaya bahwa ketika perempuan diberikan ruang untuk mengambil keputusan, pemulihan ekosistem akan berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dampak awal dari kegiatan ini sudah mulai terasa. Ada peningkatan partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan kelompok. Mereka bukan lagi sekadar pelaksana, melainkan aktor utama yang merancang masa depan ekosistem mangrove di desa mereka.

Persiapan menuju lapangan untuk melakukan penanaman mangrove
Rencana ke Depan
Meski semangat sedang membara, perjalanan masih panjang. Setelah pelatihan berlangsung mereka sepakat untuk melengkapi Alat Pelindung Diri (APD) untuk bekerja di lumpur serta perlunya penyesuaian teknis pembibitan berdasarkan kondisi lingkungan setempat. Mereka juga dengan penuh semangat.
Menyusun daftar piket untuk memantau bibit yang ada di pusat persemaian. Selanjutnya mereka juga melaksanakan rencana penanaman di lahan kritis yang telah mereka identifikasi di desanya. Yang sedianya akan dilaksanakan sekitar Juli – Agustus 2026, sesuai dengan perkiraan pertumbuhan bibit.

Ibu-ibu sedang belajar melakukan pembibitan pohon mangrove

Ibu-ibu sedang belajar melakukan penanaman pohon mangrove
Optimisme terasa sangat kuat. Rencana tindak lanjut telah disusun, mulai dari pendampingan rutin hingga penguatan tata kelola keuangan KUEP (Kelompok Usaha Ekonomi Produktif) agar restorasi mangrove ini juga sejalan dengan peningkatan ekonomi keluarga.

Masih bersemangat sampai malam, pada malam terakhir ibu-ibu membaca puisi, menari, dan bernyanyi atas inisiatif sendiri.
Melalui PERISAI Mangrove, Desa Cempa sedang menulis ulang ceritanya. Cerita tentang bagaimana tangan-tangan tangguh perempuan mampu memulihkan alam, menjaga pesisir, dan sekaligus memperkuat ekonomi komunitas. Mereka adalah perisai sesungguhnya bagi bumi dan air yang ada di desanya.
Artikel ini ditulis oleh: Soka Handinah dari Yayasan CARE Peduli
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.